Dear my black blackpaper
Apa kabar?! Huehehe… Gue mau cerita panjang dan lebar dan lama nich… Long time no blog ya! Let’s rock again…
Kalo waktu bisa diputar, pengen rasanya gue balik lagi ke masa dimana gue masih kerja di Jakarta, magang Hemato, jaga Baruna, YPR & GI. Hiks. Sayang waktu nggak bisa diputer seenak udel gue :p
Ini bulan kedua di Eka Hospital. Apa kabar gue di Eka Hospital? Menurut lo gue akan gimana Lan, coba tebak… Jawabannya: gue menderita disini, Lan, di Eka Hospital. Ironis banget. Ini sama sekali jauh dari bayangan dan harapan gue sebelumnya. Menderita lahir batin *lebay mode on*
Tanya kenapa?
Pertama, beban kerjanya berat. Kedua, banyak tuntutan dari berbagai pihak (manajemen, coordinator rawat inap, dan dari pasien). Ketiga, pendapatan tidak sesuai dengan pengorbanan. Keempat, orang2nya juga nggak enak, nggak kayak temen-temen kita di HOM. Singkat kata, gue nggak betah di 3#. Setelah satu setengah bulan kerja, gue mengajukan surat pengunduran diri. Selain ketiga fakta menyedihkan itu, keluarga gue emang lagi ada cobaan sih. Sepupu gue, adik nyokap gue, sakit berat sejak satu setengah bulan yang lalu (bersamaan sama masa kerja gue di 3#).
Sepupu cowok gue yg masih 14 tahun ini didiagnosis malignant germinal cell tumor, dengan tumor primer di mediastinum ukuran 12 x 10 x 12 cm, metastasis paru dan otak, dirawat di RSK Dharmais. Prognosis malam, makanya gue pengen bisa sama dia, nemenin dan ngurusin, selagi masih ada waktu. Karena keluarga gue deket banget sama keluarga sepupu gue ini. Fakta itu yang gue ajukan ke manajemen dan HRD sebagai alasan resign gue, dan mereka ga bisa menahan gue. Tapi ternyata, sebelum gue resign dia sudah berpulang mendahului kita semua.
Dan gue tetap dengan niat gue untuk resign.
Karena, peristiwa sakit dan meninggalnya adik sepupu gue ini bikin gue sadar, betapa sedikitnya waktu dan perhatian yang gue berikan buat keluarga gue. Alangkah sibuknya gue ngurusin orang lain dan hal lain di luar rumah selain keluarga gue, sementara keluarga gue dan orang-orang yang gue sayang selama ini terbengkalai. *shocked*
Selepas kepergian adik sepupu gue, gue masih mengemban amanat untuk men-skrining adiknya, cowok juga, umur 12 tahun, mengingat germinal cell tumor itu adalah tumor kongenital yang patofisiologinya sudah mulai berlangsung dari masa embrio dan dipengaruhi factor genetik. Selain itu ada sederet om dan tante yang sudah senior, termasuk bokap dan nyokap gue, yang punya risiko keganasan, hipertensi, asma dan alergi yang diturunkan dari opa dan oma gue. *sigh*
(Sepertinya panggilan hidup gue sudah mulai jelas, to help people dealing with cancer… Which means, Sp.PD, KHOM …Sounds familiar *big grin*)
Dan tekad gue untuk resign pun menjadi semakin mantap.
Gue belom tau mau kerja apa setelah resign, yg penting gue lepas dulu dari ikatan “kerja rodi” ini. Pada prinsipnya dalam hidup gue nggak takut “kerja rodi”, asal ada manfaatnya. Misalnya, waktu koas kerja rodi tapi kan setelah selesai jadi dokter umum. Trus kalau nanti PPDS juga pasti akan kerja rodi, tapi kan setelahnya akan jadi dokter spesialis. Nah kalo kerja rodi sebagai dokter umum di rumah sakit swasta, nantinya gue akan jadi apa? Ga akan jadi apa-apa. Tetap aja gue dokter umum.
Gue melihat kesia-siaan atas kerja rodi gue di 3#. Dan tekad gue untuk resign pun menjadi semakin bertambah mantap.
Luv u all d way,
A